Senin, 19 Agustus 2019

A.    Pengertian Komponen Keterampilan Manajemen Kelas

Untuk dapat melaksanakannya guru juga harus menguasai berbagai komponen keterampilan dalam manajemen kelas. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, komponen diartikan dengan bagian dari keseluruhan dari unsur. Sementara keterampilan berasal dari kata terampil. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata terampil diartikan sebagai cakap dalam menyelesaikan tugas, mampu, dan cekatan. Sementara keterampilan diartikan sebagai kecekapan untuk menyelesaikan tugas.
Jadi, komponen keterampilan manajemen kelas adalah keseluruhan kemampuan yang dimiliki oleh guru dalam menyelesaikan tugasnya sebagai manajeman kelas.
Keterampilan pengelolaan kelas berkaitan dengan kompetensi pedagogis. Iklim kelas yang kondusif untuk belajar ikut mempengaruhi kesuksesan guru dalam mengantarkan siswa mencapai tujuan pembelajaran.

Menurut (Sartika, 2014) kemampuan dan keterampilan mengelola kelas dalam proses belajar mengajar yang baik sebagai berikut:
1.  Menciptakan situasi yang memungkinkan anak untuk belajar, sehingga merupakan titik awal keberhasilan pengajaran.
2.      Siswa belajar dalam suasana yang wajar, tanpa tekanan dan dalam kondisi yang merangsang untuk belajar.
Jadi, dalam proses pembelajaran, seorang guru harus mampu menciptakan suatu kondisi yang memungkinkan siswa dapat melakukan pembelajaran, menumbuhkan sikap yang ramah, memiliki kesiapan demi berjalannya suatu pembelajaran dan seorang siswa mampu merasakan kenyamanan dalam keadaan ataupun suasana yang sewajarnya, tidak ada tekanan dari guru dan mampu terangsang untuk belajar dengan baik. 
   B.     Macam Macam Komponen Keterampilan Manajemen Kelas
 Menurut Moh. Uzer Usman, setidaknya ada empat komponen keterampilan manajeman kelas.
1.      Keterampilan mengadakan pendekatan secara pribadi.
Hubungan yang akrab dan sehat antara guru dengan peserta didik dan peserta didik dengan peserta didik yang lainnya menjadi suatu keharusan di dalam sebuah kelas. Hal ini dapat terwujud jika guru memiliki keterampilan secara pribadi yang dapat diciptakan antara lain dengan:
a.   Menunjukkan kehangatan dan kepakaan terhadap kebutuhan peserta didik, baik dalam kelompok kelas maupun perorangan.
b.     Mendengarkan secara simpatik ide-ide yang dikemukakan oleh peserta didik.
c.       Memberikan respon positif terhadap pemikiran peserta didiknya.
d.      Membangun hubungan saling mempercayai.
e.       Menunjukkan kesiapan untuk membantu peserta didik.
f.     Menerima perasaan peserta didik dengan penuh pengertian dan terbuka.
g.  Berusaha mengendalikan situasi hingga peserta didik merasa aman, penuh pemahaman, dan dapat memecahkan masalah yang dihadapinya.

2.      Keterampilan mengorganisasi.
Selama kegiatan belajar mengajar berlangsung di kelas, guru sebagai seorang manajer berperan sebagai organisator yag mengatur dan memonitori kegiatan belajar-mengajar dari awal dimulainya hingga akhir kegiatan. Keterampilan-keterampilan yang harus dikuasai oleh guru agar bisa mengorganisasikan kegiatan belajar-mengajar antara lain:
1.      Menjelaskan tujuan belajar yang akan dicapai kepada peserta didiknya.
2. Memvariasikan kegiatan yang mencangkup penyediaan ruangan, peralatan, dan cara menjelaskannya.
3.      Membentuk komponen yang tepat.
4.      Mengoordinasikan kegiatan belajar-mengajar kepada peserta didik, wali murid, dan kepala sekolah.
5.      Membagi perhatian pada berbagai tugas dan kebutuhan peserta didik.
6.   Mengakhiri kegiatan belajar dengan laporan hasil yang akan dicapai oleh peserta didik.

3.      Keterampilan membimbing dan memudahkan belajar
Keterampilan ini memungkinkan guru membantu peserta didik untuk maju tanpa mengalami frustasi. Hal ini dapat dicapai jika guru menguasai keterampilan berikut ini.
a.       Memberikan penguatan sebagai kegiatan yang mampu membangkitkan motivasi belajar peserta didik.
b. Mengembangkan supervisi proses awal, yaitu sikap tanggap guru terhadap peserta didik baik secara individu maupun kelompok yang dapat memungkinkan guru mengetahui apakah segala sesuatu berjalan dengan lancar sesuai dengan yang diharapkan.
c.   Mengadakan supervisi proses lanjut yan memusatkan perhatian pada penekanan dan pemberian bantuan ketika kegiatan belajar-mengajar berlangsung.
d.   Mengadakan supervisi pemanduan yang memusatkan perhatian pada penilaian. pencapaian tujuan dari berbagai kegiatan belajar yang dilakukan dalam rangka menyiapkan rangkuman dan pemantapan sehingga peserta didik saling belajar dan memperoleh wawasan yang menyeluruh. Ini dilakukan dengan menilai kemajuan peserta didik dan menyiapkan mereka untuk mengikuti kegiatan akhir belajarnya.

4.      Keterampilan merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar-mengajar
Membantu peserta didik melakukan kegiatan belajar, baik secara perorangan maupun klasikal merupakan tugas utama guru. Itulah sebabnya guru harus mampu membuat perencanaan kegiatan belajar-mengajar yang tepat bagi setiap peserta didik dan seluruh peserta didik dalam sebuah kelas serta mampu melaksanakan perencanaan tersebut. Untuk membantu suatu perencanaan yang tepat, guru dituntut untuk mampu mendiaknosis kemampuan akademik peserta didiknya, memahami berbagai tipe belajar peserta didiknya memahami bakat dan minat peserta didiknya, dan lain sebagainya. Berdasarkan hasil dagnostik tersebut, guru diharapkan mampu menerapkan kondisi dan tuntutan belajar berupa belajar mandiri, paket kegiatan belajar, belajar dengan teman sebaya, semulasi, dan sebagainya yang semuanya memadu peserta didik untuk menghayari pengalaman bekerja sama atau bekerja dengan pengarahan sendiri.
Keterampilan merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar-mengajar yang harus dikuasai oleh guru sebagai manajer kelas antara lain sebagi berikut.
a.    Membantu peserta didik menetapkan tujuan belajar dan menstimulasi peserta didik untuk mencapai yujuan belajar tersebut.
b. Merencanakan kegiatan belajar bersama peserta didiknya yang mencangkup kriteria keberhasilan, langkah-langkah kerja, waktu, serta kondisi belajar.
c.   Bertindak atau berperan sebagai penasehat bagi peserta didiknya bila diperlukan.
d.     Membantu peserta didik menilai pencapaian dan kemajuannya sendiri. Ini berarti, guru memberikan kesempatan kepada peserta didiknya untuk memperbaiki dirinya sendiri yang merupakan kerja sama guru dengan peserta didik dalam situasi pendidikan yang manusiawi.
Berbeda dengan Moh. Uzer usman, Syaiful Bahri Djamarah mengungkapkan setidaknya ada dua komponen keterampilan manajemen kelas yang harus dikuasai oleh guru, sebagai berikut:
a.       Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal (bersifat prevetif).
Keterampilan ini berhubungan dengan kompetensi guru dalam mengambil inisiatif dan mengendalikan pelajaran serta aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan keterampilan sebagai berikut:
1)      Sikap tanggap
Seorang guru memperlihatkan sikap positif terhadap setiap perilaku yang muncul pada siswa dan memberikan tanggapan-tanggapanatas perilaku tersebut dengan maksud tidak menyudutkan kondisi siswa, perasaan tertekan dan memunculkan perilaku susulan yang kurang baik. Komponen ini ditunjukan oleh tingkah laku guru bahwa ia hadir berasama mereka. Guru tahu kegiatan mereka, tahu ada perhatian atau tidak ada perhatian, tahu yang mereka kerjakan. Seolah-olah mata guru ada di belakang kepala, sehingga guru dapat menegur anak didik  walaupun guru sedang menulis di papan tulis. Sikap ini dapat dilakukan dengan cara:
·         Memandang secara seksama
Memandang secara seksama dapat mengundang dan melibatkan anak didik kontak pandang dalam pendekatan guru untuk bercakap-cakap, bekerja sama dan menunjukan rasa persahabatan.
·         Gerak  mendekati
Gerak guru dalam posisi mendekati kelompok kecil atau individu menandakan kesiagaan, minat dan perhatian guru yang diberikan terhadap tugas serta aktivitas anak didik. Gerak mendekati hendaklah dilakukan secara wajar, bukan untuk menakut-nakuti, mengancam atau memberi kritikan dan hukuman.
·         Memberi pernyataan
Pernyataan guru terhadap sesuatu yang dikemukakan oleh anak didik sangat diperlukan, baik berupa tanggapan, komentar, ataupun yang lainnya. Akan tetapi haruslah dihindari hal-hal yang menunjukan dominasi guru, misalnya dengan komentar atau pernyataan yang mengandung ancaman seperti: “ saya tunggu sampai kalian diam!”. “saya atau kalian yang keluar?” atau “ siapa yang tidak senang dengan pelajaran saya, silakan keluar!”. 
·         Memberi reaksi terhadap gangguan dan ketakacuhan
Kelas tidak selamanya tenang. Pasti ada gangguan. Hal ini perlu guru sadari dan jangan dibiarkan. Teguran guru merupakan tanda bahwa guru ada bersama anak didik. Teguran haruslah diberikan pada saat yang tepat dan sasaran yang tepat pula, sehingga dapat mencegah meluasnya penyimpangan tingkah laku.
2)      Membagi perhatian
Kelas diisi oleh sejumlah orang (siswa) yang memiliki keterbatasan-keterbatasan yang berbeda-beda yang membutuhkan bantuan dan pertolongan  dari guru. perhatian guru tidak hanya terfokus pada satu orang atau satu kelompok tertentu yang dapat menimbulkan kecemburuan, tapi perhatian harus terbagi dengan merata kepada setiap anak yang ada di dalam kelas juga harus mampu membagi perhatiannya kepada beberapa kegiatan yang berlangsung dalam waktu yang sama agar pengelolaan kelas menjadi efektif. Membagi perhatian dapat dilakukan dengan cara:
a.       Visual
Guru dapat mengubah pandangannya dalam memperhatikan kegiatan pertama sedemikian rupa sehingga ia dapat melirik kegiatan kedua, tanpa kehilangan perhatian pada kegiatan pertama. Kontak pandang ini bisa dilakukan terhadap kelompok anak didik atau anak didik secara individual.
b.      Verba
Guru dapat memberi komentar, penjelasan, pertanyaan dan sebagainya terhadap aktivitas anak didik pertama sementara ia memimpin dan terlibat supervisi pada aktivitas anak didik yang lain.

3)      Pemusataan perhatian kelompok
Munculnya kelompok informal di kelas atau pengelompokan karena disengaja oleh guru dalam kepentingan pembelajaran membutuhkan kemampuan untuk mengatur dan mengarahkan perilakunya, terutama ketika kelompok perhatiannya harus terpusat pada tugas yang harus diselesaikan. Maka guru harus bisa mengambil inisiatif dan mempertahankan perhatian anak didik dan memberitahukan (dapat dengan tanda-tanda) bahwa ia bekerja sama dengan kelompok atau subkelompok yang terdiri dari tiga sampai empat orang.
 Untuk itu ada beberapa hal yang dapat guru lakukan, yaitu:
a.       Memberi tanda
Dalam memulai proses belajar mengajar guru memusatkan pada perhatian kelompok terhadap suatu tugas dengan memberi beberapa tanda, misalnya menciptakan atau membuat situasi tenang sebelum memperkenalkan objek, pertanyaan atau topik dengan memilih anak didik secara random untuk meresponnya.
b.      Pertanggungan jawab
Guru meminta pertanggung jawaban anak didik atas kegiatan dan keterlibatannya dalam suatu kegiatan. Setiap anak didik sebagai anggota kelompok harus bertanggung jawab terhadapkegiatan sendiri, maupun kegiatan kelompoknya. Misalny, dengan meminta kepada anak didik untuk memperagakan, melaporkan hasil dan memberikan tanggapan.
c.       Pengarahan dan petunjuk yang jelas
Guru harus sering kali memberi pengarahan dan petunjuk yang jelas dan singkat dalam memberikan pelajaran kepada anak didik, sehingga tidak terjadi kebingungan pada diri anak didik. Pengarahan dan petunjuk dapat dilakukan pada seluruh anggota kelas, kepada kelompok kecil, ataupun kepada individu dengan bahasa dan tujuan yang jelas.
d.      Penghentian
Tidak semua gangguan tingkah laku dapat dicegah atau berhasil dihindari. Yang diperlukan disini adalah guru dapat menanggulangi terhadap anak didik yang nyata-nyata melanggar dan mengganggu untuk aktiv dalam kegiatan di kelas. Bila anak didik menyela kegiatan anak didik lain dalam kelompoknya, guru secara verbal mengomeli atau menghentikan gangguan anak didik itu.
Cara lain untuk menghentikan gangguan, adalah guru dan anak didik membuat persetujuan mengenai prosedur dan aturan yang merupakan bagian dari pelaksanaan rutin proses belajar mengajar, sehingga menghentikan gangguan berubah menjadi hanya memperingatkan.
Cara mengomeli kurang dibenarkan dalam pendidikan, sebab tidak mendidik.
a.       Penguatan
Untuk menanggulangi anak didik yang mengganggu atau tidak melakukan tugas, dapat dilakukan dengan pemberian penguatan yang dipilih sesuai dengan masalahnya. Penggunaan penguatan untuk mengubah tingkah laku merupakan strategi remedial untuk mengatasi anak didik yang terus mengganggu atau yang tidak melakukan tugas.
b.      Kelancaran
Kelancaran atau kemajuan anak didikdalam belajar sebagai indikator bahwa anak didik dapat memusatkan perhatiannya pada pelajaran yang diberikan di kelas. Hal ini perlu guru dukung dan jangan diganggu dengan hal-hal yang bisa membuyarkan konsentrasi anak didik. Ada sejumlah kesalahan yang harus guru hindari, yaitu: campur tangan yang berlebihan (teacher Instruction), kelenyapan (Fade away), penyimpangan (Digression), dan ketidaktepatan berhenti dan memulai kegiatan.
c.       Kecepatan
Kecepatan disini diartikan sebagai tingkat kemajuan yang dicapai anak didik dalam suatu pelajaran. Yang perlu dihindari oleh guru adalah kesalahan menahan penyajian bahan pelajaran yang sedang berjalan, atau kemajuan tugas. Ada dua kesalahan kecepatan yang harus dihindari bila kecepatan yang tepat mau dipertahankan, yaitu: Bertele-tele (overdwelling) dan mengulangi penjelasan yang tidak perlu.
4)      Memberikan petunjuk-petunjuk yang jelas
Untuk mengarahkan kelompok kedalam pusat perhatian seperti dijelaskan diatas, juga memudahkan anak menjalankan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya maka tugas guru adalah memaparkan setiap pelaksanaan tugas-tugas tersebut sebagai petunjuk pelaksanaan yang harus dilaksanakan anak secara bertahap dan jelas.
5)      Menegur
Permasalahan bisa terjadi dalam hubungannya antara siswa dengan siswa dan siswa dengan guru. Permasalahan dalam hubungan tersebut bisa terjadi dalam konteks pembelajaran, sehingga guru sebagai pemegang kendali kelas harus mampu memberikan teguran yang sesuai dengan tugas dan perkembangan siswa. Sifat dari teguran bukan dari hal yang memberikan efek  penyerta yang menimbulkan ketakutan pada siswa tapi bagaimana siswa bisa tahu dengan kesalahan yang dilakukannya .
6)      Memberi penguatan
Penguatan adalah upaya yang diarahkan agar prestasi yang dicapai dan perilaku-perilaku yang baik dan dipertahankan oleh siswa atau bahkan mungkin ditingkatkan atau dapat ditularkan kesiswa lainnya. Penguatan yang dimaksudkan dapat berupa reward yang bersifat nonmaterial juga yang bersifat material tapi tidak berlebihan .

b.      Keterampilan yang berhubungan dengan pengendalian kondisi belajar yang optimal.
Keterampilan ini berkaitan dengan tanggapan guru terhadap anak didik yang berkelanjutan dengan maksud agar guru dapat mengadakan kegiatan remedial untuk mengembalikan kondisi belajara yang optimal. Apabila terdapat anak didik yang menimbulkan gangguan yang berulang –ulang walaupun guru telah menggunakan tingkah laku dan tanggapan yang sesuai, guru dapat meminta bantuan kepala sekolah, konselor sekolah, atau orang tua anak didik untuk membantu mengatasinya.
Bukanlah kesalahan profesional guru apabila ia tidak dapat menangani setiap masalah anak didik dalam kelas. Namun pada tingkat tertentu guru dapat menggunakan seperangkat strategi untuk tindakan perbaikan terhadap tingkah laku anak didik yang terus menerus menimbulkan gangguan dan yang tidak mau terlibat dalam tugas kelas. Strategi itu adalah:
a.        Memodifikasi tingkah laku
Modifikasi tingkah laku adalah menyesuaikan bentuk-bentuk tingkah laku kedalam tuntutan kegiatan pembelajaran sehingga tidak muncul prototyfe pada diri anak tentang penilaian yang kurang baik. Guru menganalisis tingkah laku anak didik yang mengalami masalah atau kesulitan dan berusaha memodifikasi tingkah laku tersebut dengan mengaplikasikan pemberian penguatan secara sistematis. 
b.      Pengelolaan kelompok
Kelompok kecil ataupun kelompok belajar di kelas adalah merupakan bagian pencapaian tujuan pembelajaran dan strategi yang diterapkan oleh guru. Kelompok biasa muncul secara informal seperti teman bermain, teman seperjalanan , gender dan lain-lain. Untuk kelancaran pembelajaran dan pencapaian tujuan pembelajaran maka kelompok yang ada dikelas itu harus dikelola dengan baik oleh guru.
c.       Menemukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah.
Permasalahan memiliki sifat perennial (akan selalu ada) dan nurturan effect, oleh karna itu permasalahan akan muncul didalam kelas kaitanya dengan interaksi dan akan diisi oleh dampak pengiring yang besar bila tidak biasa di selesaikan. Guru dapat dapat melakukan seperangkat cara untuk mengendalikan tingkah laku keliru yang muncul, dan ia mengetahui sebab-sebab dasar yang mengakibatkan ketidak patuhan tingkah laku tersebut serta berusaha untuk menemukan pemecahannya. Guru harus datang mendeteksi permasalahan yang mungkin muncul dan dengan secepatnya mengambil langkah penyelesain sehinggaada solusi untuk masalah tersebut.

   C.    Permasalahan Komponen Keterampilan Manajemen Kelas
Hal ini merupakan hambatan kemajuan pelajaran atau aktivitas kelas. Siswa pada umumnya mencatat sebagai hal yang membosankan dan tidak mau terlibat dalam kegiatan dikelas.Pengulangan Penjelasan Yang Tidak Perlu Terjadi Jika Guru memberi petunjuk yang berulang-ulang secara tidak perlu membagi kelas dalam memberikan petunjuk atau secara terpisah memberi petunjuk ke setiap kelompok yang sebelumnya dapat diberikan secara bersama-sama kepada seluruh kelompok sekali saja di depan kelas.
Ketrampilan ini berhubungan dengan tanggapan guru terhadap gangguan anak didik yang berkelanjutan dengan maksud guru dapat mengadakan tindakan remedial untuk mengembalikan tindakan optimal. Apabila terdapat anak didik yang menimbulkan gangguan yang berulang-ulang walaupun guru telah mencoba memadamkan dengan tanggapan yang relevan tetap saja terjadi kembali, guru dapat meminta bantuan,Kepala Sekolah, Konselor/BP dan Waka kesiswaan untuk membantu mengatasinya.
Bukanlah kesalahan professional guru apabila tidak dapat menangani permasalahan anak didik dalam kelas berkenaan dengan itu guru dapat menggunakan seperangkat strategi untuk tindakan perbaikan terhadap tingkah anak didik yang terus menerus menimbulkan gangguan dan yang tidak mau terlibat dalam kegiatan di kelas.

1.      Strategi Yang Dapat Digunakan
a)      Modifikasi Tingkah Laku
Guru hendaklah menganalisis tingkah anak didik yang mengalami masalah dan berusaha memodifikasi tingkahlaku tersebut. Dengan mengaplikasikan pemberian penguatan secara sistematis. 
1)      Dapat kerjasama dengan rekan kerja mengatasi masalah
2)      Merinci dengan tepat tingka yang menimbulkan masalah
3)  Memilih dengan teliti tingkah yang diperbaiki dengan mudah untuk diubah, tingkah yang paling menjengkelkan yang sering muncul.
4)      Tepat memilih pemberian penguatan yang dapat digunakan untuk mempertahankan tingkah yang telah menjadi baik.
b)      Pendekatan Pemecahan Masalah Kelompok
1)      Memperlancar tugas, mengadakan terjadinya kerjasama yang baik dalam pelaksanaan tugas.
2)  Memelihara kegiatan-kegiatan kelompok, memelihara dan memulihkan semangat anak didik dan menangani konflik yang timbul.
3)      Menemukan dan memecahkan tingkahlaku yang menimbulkan masalah.
4)     Guru dapat menggunakan seperangkat cara untuk mengendalikan tingkahlaku keliru yang muncul, guru harus mengetahui sebab dasar yang mengakibatkan ketidak patuhan tingkah tersebut. Serta berusaha mencari pemecahanya.



2.      Hal-hal yang harus di hindari
a.       Campur Tangan Yang Berlebihan
Seperti guru menyela kegiatan yang asik berlangsung dengan komen atau petunjuk mendadak, maka kegiatan siswa akan terganggu atau terputus. Kesan guru tidak memperhatikan kebutuhan siswa, hanya memuaskan dirinya saja.
b.       Kelenyapan
Terjadi jika guru gagal secara tepat melengkapi suatu intruksi penjelasan atau petunjuk, komentar. Kemudian menghentikan penjelasan atau sajian tanpa alas an yang jelas dan membiarkan pikiran anak mengawang-awang.
c.       Ketidak tepatan memulai dan mengahiri kegiatan
Terjadi jika guru memulai suatu aktivitas tanpa mengakhiri aktivitas sebelumnya.
d.      Penyimpangan
Terjadi jika dalam kegiatan PBM guru terlalu asik dengan kegiatan tertentu seperti sibuk dengan tempat duduk yang tidak rapi atau cerita sesuatu yang tidak ada hubungan dengan materi terlalu jauh, sehingga kelancaran kegiatan di kelas terganggu.
e.       Bertele-tele
1.      Mengulang-ulangi hal-hal tertentu
2.      Memperpanjang pelajaran atau penjelasan

Rabu, 07 Agustus 2019

Aspek-aspek manajemen kelas



                    A.  Aspek-Aspek Manajemen Kelas
            AspekAspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam manajemen kelas yang baik adalah : sifat kelas, pendorong kekuatan kelas, situasi kelas, tindakan efektif dan kreatif. (Maman Rachman:1999) Kegiatan manajemen kelas sebagai aspek manajemen kelas di SD :
1.      Mengecek kehadiranb.
2.      Mengumpulkan hasil pekerjaan siswa, memeriksa dan menilai hasil pekerjaanc.
3.      Pendistribusian alat dan bahand.
4.      Mengumpulkan informasi dari siswae.Mencatat dataf.
5.      Pemeliharaan arsipg.
6.      Menyampaikan materi pelajaranh.
7.      Memberikan tugas
Aspek-aspek manajemen kelas secara umum yaitu
1.      Inovasi pendidikan dalam lingkup belajar
2.      Permasalahan kelas
3.      Kelas yang menyenangkan dan nyaman

                      B.  Fungsi Manajemen Kelas
            Fungsi manajemen kelas sebenarnya merupakan penerapan fungsi-fungsi manajemen yang diaplikasikan di dalam kelas oleh guru untuk mendukung tujuan pembelajaran yang hendak dicapinya.
1.      Perencanaan
2.      Pengorganisasian
3.      Penggerakan
4.      Pengarahan
5.      Pengkoordinasian
6.      Pengendaliang
7.      Inovasia

a.      Merencanakan
            Merencanakan adalah membuat suatu target-target yang akan dicapai atau diraih di masa depan. Dalam organisasi merencanakan adalah suatu proses memikirkan dan menetapkan secara matang arah, tujuan dan tindakan sekaligus mengkaji berbagai sumber daya dan metode/teknik yang tepat.
            Merencanakan pada dasarnya membuat keputusan mengenai arah yang akan dituju, tindakan yang akan diambil, sumber daya yang akan diolah dan teknik/metode yang dipilih untuk digunakan. Rencana mengarahkan tujuan organisasi dan menetapkan prosedur terbaik untuk mencapainya. Prosedur itu dapat berupa pengaturan sumber daya dan penetapan teknik/metode.
            Keberadaan suatu rencana sangat penting bagi organisasi karena rencana berfungsi untuk:
a)      Menjelaskan dan merinci tujuan yang ingin dicapai
b)      Memberikan pegangan dan menetapkan kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut
c)      Organisasi memperoleh standar sumber daya terbaik dan mendayagunakannya sesuai tugas pokok fungsi yang telah ditetapkan
d)     Menjadi rujukan anggota organisasi dalam melaksanakan aktivitas yang konsisten prosedur dan tujuan
e)      Memberikan batas kewenangan dan tanggung jawab bagi seluruh pelaksana
f)       Memonitor dan mengukur berbagai keberhasilan secara intenship sehingga bisa menemukan dan memperbaiki penyimpangan secara dini
g)      Memungkinkan untuk terpeliharanya persesuaian antara kegiatan internal dengansituasi eksternal
h)      Menghindari pemborosan
      Secara sederhana merencanakan adalah suatu proses merumuskan tujuan-tujuan, sumber daya, dan teknik/metode yang terpilih.

b.      Mengorganisasikan
            Setelah mendapat kepastian tentang tujuan, sumber daya dan teknik/metode yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut, lebih lanjut manajer melakukan upaya pengorganisasian agar rencana tersebut dapat dikerjakan oleh orang ahlinya secara sukses.
            Mengorganisasikan adalah proses mengatur, mengalokasikan dan mendistribusikan pekerjaan, wewenang dan sumber daya diantara anggota organisasi untuk mencapai tujuan organisasi. Stoner (1996:11) menyatakan bahwa mengorganisasikan adalah proses mempekerjakan dua orang atau lebih untuk bekerjasama dalam cara tersturktur guna mencapai sasaran spesifik atau beberapa sasaran.
            Mengorganisasikan berarti: (1) menentuan sumber daya dan kegiatan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan organisasi, (2) merancang dan mengembangkan kelompok kerja yang berisi orang yang mampu membawa organisasi pada tujuan, (3) menugaskan seseorang atau kelompok orang dalam suatu tanggung jawab tugas dan fungsi tertentu, (4) mendelegasikan wewenang kepada individu yang berhubungan dengan keleluwasaan melaksanakan tugas. Dengan rincian tersebut, manajer membuat suatustruktur formal yang dapat dengan mudah dipahami orang dan menggambarkan suatu posisi dan fungsi seseorang di dalam pekerjaannya.
            Mengorganisasikan sangat penting dalam manajemen karena membuat posisi orang jelas dalam struktur dan pekerjaannya dan melalui pemilihan, pengalokasian dan pendistribusian kerja yang professional, organisasi dapat mencapai tujuan secara efektif dan efisien.
            Dalam mengorganisasikan seorang manajer jelas memerlukan kemampuan memahami sifat pekerjaan (job spesification) dan kualifikasi orang yang harus mengisi jabatan. Dengan demikian kemampuan menyusun personalia adalah menjadi bagian pengorganisasian.

c.       Memimpin
            Memimpin institusi pendidikan lebih menekankan pada upaya mengarahkan dan memotivasi para personil agar dapat melaksanakan tugas pokok fungsinya dengan baik. Memimpin menurut Stoner (19966:11) adalah proses mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas yang berkaitan dengan pekerjaan dari anggota kelompok atau seluruh organisasi.
            Seorang pemimpin dalam melaksanakan amanatnya apabila ingin dipercaya dan diikuti harus memiliki sifat kepemimpinan yang senantiasa dapat menjadi pengarah yang didengar ide dan pemikirannya oleh para anggota organaisasi. Hal ini tidak semata mata mereka cerdas membuat keputusan tetapi dibarengi dengan memiliki kepribadian yang dapat dijadikan suri tauladan.

d.      Mengendalikan
            Mengendalikan institusi pendidikan adalah membuat institusi berjalan sesuai dengan jalur yang telah ditetapkan dan sampai kepada tujuan secara efektif dan efisien. Perjalanan menuju tujuan dimonitor, diawasi dan dinilai supaya tidak melenceng atau keluar jalur. Apabila hal ini terjadi harus dilakukan upaya mengembalikan pada arah semula. Dari hasil evaluasi dapat dijadikan informasi yang harus menjamin bahwa aktivitas yang menyimpang tidak terulang kembali.
            Pengendalian adalah proses untuk memastikan bahwa aktivitas sebenarnya sesuai dengan aktivitas yang direncanakan. Proses pengendalian dapat melibatkan beberapa elemen yaitu; (1) menetapkan standar kinerja, (2) mengukur kinerja, (3) membandingkan unjuk kerja dengan standar yang telah ditetapkan, (4) mengambil tindakan korektif saat terdeteksi penyimpangan.
            Masalah pengelolaan kelas menurut M. Entang dan T. Raka Joni (1983:12) dikelompokkan menjadi dua kategori yaitu masalah individual dan masalah kelompok (meskipun perbedaan keduanya merupakan tekanan saja). Tindakan pengelolaan kelas yang dilakukan guru akan efektif apabila ia dapat mengidentifikasi dengan tepat hakekat masalah yang sedang dihadapi, sehingga pada gilirannya ia dapat memilih strategi penanggulangan yang tepat pula.
            Masalah individu muncul karena dalam individu ada kebutuhan ingin diterima kelompok dan ingin mencapai harga diri. Apabila kebutuhan-kebutuhan itu tidak dapat lagi dipenuhi melalui cara-cara yang lumrah yang dapat diterima masyarakat (kelas, maka individu yang bersangkutan akan berusaha mencpainya dengan cara-cara lain. Dengan perkataan lain individu itu akan berbuat tidak baik. Perbuatan-perbuatan untuk mencapai tujuan dengan cara yang tidak baik itu oleh Rodolf Dreikurs dan pearl Cassel yang dikutip oleh M. Entang dan T. Raka Joni digolongkan menjadi empat yaitu :
1)      Tingkah laku yang ingin mendapat perhatian orang lain (attention getting behaviors). Misalnya membadut di kelas atau berbuat lamban sehingga perlu mendpat pertolongan ekstra.
2)      Tingkah laku yang ingin menunjukkan kekuatan (power seeking behaviors), misalnya selalu mendebat, kehilangan kendali emosional (marah-marah,menangis) atau selalu lupa pada aturan-aturan penting di kelas.
3)      Tingkahlaku yang bertujuan menyakiti orang lain (revenge seeking behaviors). Misalnya menyakiti orang lain dengan mengata-ngatai, memukul, menggigit dan sebaginya.
4)      Peragaan ketidak mampuan (passive behaviors), yaitu sama sekali menolak untuk mencoba melakukanapapun karena menganggap bahwa apapun yang dilakukannya akan mengalami kegagalan.
      Sebagai penduga Dreikurs dan Paerl Cassel menyarankan penyikapan sebagai berikut : (1) apabila seorang guru merasa merasa terganggu oleh perbuatan siswa, maka kemungkinan siswa tersebut ada pada tahap attention getting (minta perhatian), (2) apabila guru merasa dikalahkan atau terancam oleh perbuatan siswa, kemungkinan siswa tersebut ada pada tahap power seeking (ingin mengejar kekuasaan), (3) Jika guru merasa tersinggung atau terluka hati oleh perbuatan siswa, kemungkinan siswa tersebut pada tahap revenge -seeking (ingin membalas dendam), (4) jika guru merasa benar-benar tidak mampu berbuat apa-apa lagi dalam menghadapi ulah siswa, maka kemungkinan siswa ingin menunjukkan ketidakmampuan.
      Dari empat cara/tindakan yang dilakukan individu tersebut mengakibatkan terbentuknya empat pola tingkah laku yang sering nampak pada anak usia sekolah (Maman rahman :1998) yaitu :
1)      Pola aktif konstruktif yaitu pola tingkah laku yang ekstrim, ambisius untuk menjadi super star di kelasnya dan mempunyai daya usaha untuk membantu guru dengan penuh vitalitas dan sepenuh hati.
2)      Pola aktif destruktif yaitu pola tingkah laku yang diwujudkan dalam bentuk membuat banyolan, suka marah, kasar dan memberontak.
3)      Pola pasif konstruktif yaitu pola yang menunjuk kepada satu bentuk tingkah laku yang lamban dengan maksud supaya selalu dibantu dan mengharapkan perhatian.
4)      Pola pasif destruktif yaitu pola tingkah laku yang menunjuk kemalasan (sifat pemalas)dan keras kepala.

      Sedangkan masalah kelompok, menurut Lois V. Jhonson dan Mary A. Bany mengemukakan tujuh kategori masalah kelompok dalam pengelolaan kelas, yaitu :
1)    Kelas kurang kohesif, karena alasan jenis kelamin, suku, tingkah laku sosio-ekonomi dan sebagainya.
2)     Kelas mereaksi negatif terhadap salah seorang anggotanya, misalnya mengejek teman kelasnya yang menyanyi dengan suara sumbang.
3) Penyimpangan dari norma-norma tingkah laku yang telah disepakati sebelumnya, misalnya sengaja berbicara keras-keras di runga baca perpustakaan.
4)  Membesarkan hati anggota kelas yang justru melanggar norma kelompok, misalnya pemberian semangat kepada badut kelas.
5)      Kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah digarap.
6) .Semangat kerja rendah , misalnya semacam aksi protes kepada guru karena menganggap tugas yang diberikan kurang adil.
7)  Kelas kurang menyesuaikan diri dengan keadaan baru, seperti perubahan jadwal, atau guru kelas terpaksa diganti sementara oleh guru yang lain.

            Dari dua macam masalah tersebut (masalah individu dan masalah kelompok), setiap macam masalah memerlukan penanganan yang berbeda. Selanjutnya, sasaran penanganan masalah individual adalah individu yang bersangkutan. Sebaliknya di dalam masalah kelompok maka tindakan korektif harus ditujukan kepada kelompok. Diagnosis yang keliru akan mengakibatkan terjadinya tindakan korektif yang keliru pula.

                        C.  Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Manajemen Kelas
            Berhasilnya manajemen kelas dalam memberikan dukungan terhadap pencapaian tujuan pembelajaran yang akan dicapai, banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut melakat pada kondisi fisik kelas dan pendukungnya, juga dipengaruhi oleh faktor non fisik (sosio-emosional) yang melekat pada guru. Untuk mewujudkan pengelolaan kelas yang baik, ada beberapa faktor yang mempengaruhinya antara lain:
1.      Kondisi fisik
            Lingkungan fisik tempat belajar mempunyai pengaruh penting terhadap hasil pembelajaran. Lingkungan fisik yang menguntungkan dan memenuhi syarat minimal mendukung meningkatnya intensitas proses pembelajaran dan mempunyai pengaruh positif terhadap pencapaian tujuan pengajaran. Lingkungan fisik yang dimaksud meliputi:
a.       Ruangan tempat berlangsungnya proses belajar mengajar
      Ruangan tempat belajar harus memungkinkan semua siswa bergerak leluasa, tidak berdesak-desakan dan saling menganggu antara siswa yang satu dengan lainnya pada saat melakukan aktivitas belajar. Besarnya ruangan kelas tergantung pada jenis kegiatan dan jumlah siswa yang melakukan kegiatan. Jika ruangan itu tersebut mempergunakan hiasan, pakailah hiasan-hiasan yang mempunyai nilai pendidikan.
b.      Pengaturan tempat duduk
      Dalam mengatur tempat duduk yang penting adalah memungkinkan terjadinya tatap muka, dengan demikian guru dapat mengontrol tingkah lakusiswa. Pengaturan tempat duduk akan mempengaruhi kelancaran proses belajar mengajar.
c.       Ventilasi dan pengaturan cahaya
      Suhu, ventilasi dan penerangan (kendati pun guru sulit mengatur karena sudah ada) adalah aset penting untuk terciptamya suasana belajaryang nyaman. Oleh karena itu, ventilasi harus cukup menjamin kesehatan siswa.
d.      Pengaturan penyimpanan barang-barang
      Barang-barang hendaknya disimpan pada tempat khusus yang mudah dicapai kalau segera diperlukan dan akan dipergunakan bagi kepentingan belajar. Barang-barang yang karena nilai praktisnya tinggi dan dapat disimpan di ruang kelas seperti buku pelajaran, pedoman kurikulum, kartu pribadi dan sebagainya, hendaknya ditempatkan sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu gerak kegiatan siswa.Tentu saja masalah pemeliharaan juga sangat penting dan secara periodik harus dicek dan recek.

      Hal lainnya adalah pengamanan barang-barang tersebut. Baik dari pencurian maupun barang-barang yang mudah meledak atau terbakar.Hal lain yang perlu diperhatikan dalam penciptaan lingkungan fisik tempat belajar adalah kebersihan dan kerapihan. Seyogyanya guru dan siswa turut aktif dalam membuat keputusan mengenai tata ruang, dekorasi dan sebagainya.Kondisi Sosio-EmosionalKondisi sosio emosional dalam kelas akan mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap proses belajar mengajar, kegairahan siswa dan efektifitas tercapainya tujuan pengajaran.

2.      Kondisi sosio-emosional tersebut meliputi :
a.       Tipe kepemimpinan
            Peranan guru dan tipe kepemimpinan guru akan mewarnai suasana emosional di dalam kelas. Apakah guru melaksanakan kepemimpinannya secara demokratis, laisez faire atau demokratis. Kesemuanya itu memberikan dampak kepada peserta didik.
b.      Sikap guru
            Sikap guru dalam menghadapi siswa yang melanggar peraturan sekolah hendaknya tetap sabar, dan tetap bersahabat dengan suatu keyakinan bahwa tingkah laku siswa akan dapat diperbaiki. Kalaupun guru terpaksa membenci, bencilah tingkah lakunya bukan membenci siswanya. Terimalah siswa dengan hangat sehingga ia insyaf akan kesalahannya. Berlakulah adil dalam bertindak. Ciptakan satu kondisi yang menyebabkan siswa sadar akan kesalahannya sehingga ada dorongan untuk memperbaiki kesalahannya.
c.       Suara guru
            Suara guru, walaupun bukan faktor yang besar, turut mempengaruhi dalam proses belajar mengajar. Suara yang melengking tinggi atau senantiasa tinggi atau malah terlalu rendah sehingga tidak terdengar oleh siswa akan mengakibatkan suasana gaduh, bisa jadi membosankan sehingga pelajaran cenderung tidak diperhatikan. Suara hendaknya relatif rendah tetapi cukup jelas dengan volume suara yang penuh dan kedengarannya rileks cenderung akan mendorong siswa untuk memperhatikan pelajaran, dan tekanan suara hendaknya bervariasi agar tidak membosankan siswa.
d.      Pembinaan hubungan baik (raport)
            Pembinaan hubungan baik (raport) antara guru dan siswa dalam masalah pengelolaan kelas adalah hal yang sangat penting. Dengan terciptanya hubungan baik guru-siswa, diharapkan siswa senantiasa gembira, penuh gairah dan semangat, bersikap optimistik, relaistik dalam kegiatan belajar yang sedang dilakukannya serta terbuka terhadap hal-hal yang ada pada dirinya.




















Jalannya diskusi
                 1.  Berdo’a pada awal perkuliahan
                 2.  Murajaan hafalan
                 3.  Presentasi materi oleh kelompok penyaji
    a.       Materi pertama (Aspek-aspek manajemen kelas) disampaikan oleh Remuti
    b.      Materi kedua ( Fungsi manajemen kelas) disampaikan oleh Anisa Ramadani
    c.     Materi ketiga (Faktor-faktor yang mempengaruhi manajemen kelas) disampaikan oleh        Yulastri Aroza
                4.  Proses tanya jawab denga forum/audiens
   a.       Gintan Mutiara (aspek aspek manajemen di sd di sd, apakah selurunya harus dipenuhi        dan dalam pemenuhannya apakah harus berurutan?)
   b.      Sisi Anggrayani ( tipe kepemimpinan yang cocok diterapkan di sd)
   c.    Hendra Saputra (sikap guru, jika ada siswa yg bermasalah, ada yang mengaggap enteng     guru  bagaimana cara nya agar siswa tidak mengulangi lagi)
5               5.  Proses penguatan dan penambahan materi oleh dosen pembimbing






Tugas 14

Tugas 14: Membina hubungan sekolah dengan masyarakat dalam disiplin kelas A.     Konsep Dasar Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat ...