Rabu, 07 Agustus 2019

Aspek-aspek manajemen kelas



                    A.  Aspek-Aspek Manajemen Kelas
            AspekAspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam manajemen kelas yang baik adalah : sifat kelas, pendorong kekuatan kelas, situasi kelas, tindakan efektif dan kreatif. (Maman Rachman:1999) Kegiatan manajemen kelas sebagai aspek manajemen kelas di SD :
1.      Mengecek kehadiranb.
2.      Mengumpulkan hasil pekerjaan siswa, memeriksa dan menilai hasil pekerjaanc.
3.      Pendistribusian alat dan bahand.
4.      Mengumpulkan informasi dari siswae.Mencatat dataf.
5.      Pemeliharaan arsipg.
6.      Menyampaikan materi pelajaranh.
7.      Memberikan tugas
Aspek-aspek manajemen kelas secara umum yaitu
1.      Inovasi pendidikan dalam lingkup belajar
2.      Permasalahan kelas
3.      Kelas yang menyenangkan dan nyaman

                      B.  Fungsi Manajemen Kelas
            Fungsi manajemen kelas sebenarnya merupakan penerapan fungsi-fungsi manajemen yang diaplikasikan di dalam kelas oleh guru untuk mendukung tujuan pembelajaran yang hendak dicapinya.
1.      Perencanaan
2.      Pengorganisasian
3.      Penggerakan
4.      Pengarahan
5.      Pengkoordinasian
6.      Pengendaliang
7.      Inovasia

a.      Merencanakan
            Merencanakan adalah membuat suatu target-target yang akan dicapai atau diraih di masa depan. Dalam organisasi merencanakan adalah suatu proses memikirkan dan menetapkan secara matang arah, tujuan dan tindakan sekaligus mengkaji berbagai sumber daya dan metode/teknik yang tepat.
            Merencanakan pada dasarnya membuat keputusan mengenai arah yang akan dituju, tindakan yang akan diambil, sumber daya yang akan diolah dan teknik/metode yang dipilih untuk digunakan. Rencana mengarahkan tujuan organisasi dan menetapkan prosedur terbaik untuk mencapainya. Prosedur itu dapat berupa pengaturan sumber daya dan penetapan teknik/metode.
            Keberadaan suatu rencana sangat penting bagi organisasi karena rencana berfungsi untuk:
a)      Menjelaskan dan merinci tujuan yang ingin dicapai
b)      Memberikan pegangan dan menetapkan kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut
c)      Organisasi memperoleh standar sumber daya terbaik dan mendayagunakannya sesuai tugas pokok fungsi yang telah ditetapkan
d)     Menjadi rujukan anggota organisasi dalam melaksanakan aktivitas yang konsisten prosedur dan tujuan
e)      Memberikan batas kewenangan dan tanggung jawab bagi seluruh pelaksana
f)       Memonitor dan mengukur berbagai keberhasilan secara intenship sehingga bisa menemukan dan memperbaiki penyimpangan secara dini
g)      Memungkinkan untuk terpeliharanya persesuaian antara kegiatan internal dengansituasi eksternal
h)      Menghindari pemborosan
      Secara sederhana merencanakan adalah suatu proses merumuskan tujuan-tujuan, sumber daya, dan teknik/metode yang terpilih.

b.      Mengorganisasikan
            Setelah mendapat kepastian tentang tujuan, sumber daya dan teknik/metode yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut, lebih lanjut manajer melakukan upaya pengorganisasian agar rencana tersebut dapat dikerjakan oleh orang ahlinya secara sukses.
            Mengorganisasikan adalah proses mengatur, mengalokasikan dan mendistribusikan pekerjaan, wewenang dan sumber daya diantara anggota organisasi untuk mencapai tujuan organisasi. Stoner (1996:11) menyatakan bahwa mengorganisasikan adalah proses mempekerjakan dua orang atau lebih untuk bekerjasama dalam cara tersturktur guna mencapai sasaran spesifik atau beberapa sasaran.
            Mengorganisasikan berarti: (1) menentuan sumber daya dan kegiatan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan organisasi, (2) merancang dan mengembangkan kelompok kerja yang berisi orang yang mampu membawa organisasi pada tujuan, (3) menugaskan seseorang atau kelompok orang dalam suatu tanggung jawab tugas dan fungsi tertentu, (4) mendelegasikan wewenang kepada individu yang berhubungan dengan keleluwasaan melaksanakan tugas. Dengan rincian tersebut, manajer membuat suatustruktur formal yang dapat dengan mudah dipahami orang dan menggambarkan suatu posisi dan fungsi seseorang di dalam pekerjaannya.
            Mengorganisasikan sangat penting dalam manajemen karena membuat posisi orang jelas dalam struktur dan pekerjaannya dan melalui pemilihan, pengalokasian dan pendistribusian kerja yang professional, organisasi dapat mencapai tujuan secara efektif dan efisien.
            Dalam mengorganisasikan seorang manajer jelas memerlukan kemampuan memahami sifat pekerjaan (job spesification) dan kualifikasi orang yang harus mengisi jabatan. Dengan demikian kemampuan menyusun personalia adalah menjadi bagian pengorganisasian.

c.       Memimpin
            Memimpin institusi pendidikan lebih menekankan pada upaya mengarahkan dan memotivasi para personil agar dapat melaksanakan tugas pokok fungsinya dengan baik. Memimpin menurut Stoner (19966:11) adalah proses mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas yang berkaitan dengan pekerjaan dari anggota kelompok atau seluruh organisasi.
            Seorang pemimpin dalam melaksanakan amanatnya apabila ingin dipercaya dan diikuti harus memiliki sifat kepemimpinan yang senantiasa dapat menjadi pengarah yang didengar ide dan pemikirannya oleh para anggota organaisasi. Hal ini tidak semata mata mereka cerdas membuat keputusan tetapi dibarengi dengan memiliki kepribadian yang dapat dijadikan suri tauladan.

d.      Mengendalikan
            Mengendalikan institusi pendidikan adalah membuat institusi berjalan sesuai dengan jalur yang telah ditetapkan dan sampai kepada tujuan secara efektif dan efisien. Perjalanan menuju tujuan dimonitor, diawasi dan dinilai supaya tidak melenceng atau keluar jalur. Apabila hal ini terjadi harus dilakukan upaya mengembalikan pada arah semula. Dari hasil evaluasi dapat dijadikan informasi yang harus menjamin bahwa aktivitas yang menyimpang tidak terulang kembali.
            Pengendalian adalah proses untuk memastikan bahwa aktivitas sebenarnya sesuai dengan aktivitas yang direncanakan. Proses pengendalian dapat melibatkan beberapa elemen yaitu; (1) menetapkan standar kinerja, (2) mengukur kinerja, (3) membandingkan unjuk kerja dengan standar yang telah ditetapkan, (4) mengambil tindakan korektif saat terdeteksi penyimpangan.
            Masalah pengelolaan kelas menurut M. Entang dan T. Raka Joni (1983:12) dikelompokkan menjadi dua kategori yaitu masalah individual dan masalah kelompok (meskipun perbedaan keduanya merupakan tekanan saja). Tindakan pengelolaan kelas yang dilakukan guru akan efektif apabila ia dapat mengidentifikasi dengan tepat hakekat masalah yang sedang dihadapi, sehingga pada gilirannya ia dapat memilih strategi penanggulangan yang tepat pula.
            Masalah individu muncul karena dalam individu ada kebutuhan ingin diterima kelompok dan ingin mencapai harga diri. Apabila kebutuhan-kebutuhan itu tidak dapat lagi dipenuhi melalui cara-cara yang lumrah yang dapat diterima masyarakat (kelas, maka individu yang bersangkutan akan berusaha mencpainya dengan cara-cara lain. Dengan perkataan lain individu itu akan berbuat tidak baik. Perbuatan-perbuatan untuk mencapai tujuan dengan cara yang tidak baik itu oleh Rodolf Dreikurs dan pearl Cassel yang dikutip oleh M. Entang dan T. Raka Joni digolongkan menjadi empat yaitu :
1)      Tingkah laku yang ingin mendapat perhatian orang lain (attention getting behaviors). Misalnya membadut di kelas atau berbuat lamban sehingga perlu mendpat pertolongan ekstra.
2)      Tingkah laku yang ingin menunjukkan kekuatan (power seeking behaviors), misalnya selalu mendebat, kehilangan kendali emosional (marah-marah,menangis) atau selalu lupa pada aturan-aturan penting di kelas.
3)      Tingkahlaku yang bertujuan menyakiti orang lain (revenge seeking behaviors). Misalnya menyakiti orang lain dengan mengata-ngatai, memukul, menggigit dan sebaginya.
4)      Peragaan ketidak mampuan (passive behaviors), yaitu sama sekali menolak untuk mencoba melakukanapapun karena menganggap bahwa apapun yang dilakukannya akan mengalami kegagalan.
      Sebagai penduga Dreikurs dan Paerl Cassel menyarankan penyikapan sebagai berikut : (1) apabila seorang guru merasa merasa terganggu oleh perbuatan siswa, maka kemungkinan siswa tersebut ada pada tahap attention getting (minta perhatian), (2) apabila guru merasa dikalahkan atau terancam oleh perbuatan siswa, kemungkinan siswa tersebut ada pada tahap power seeking (ingin mengejar kekuasaan), (3) Jika guru merasa tersinggung atau terluka hati oleh perbuatan siswa, kemungkinan siswa tersebut pada tahap revenge -seeking (ingin membalas dendam), (4) jika guru merasa benar-benar tidak mampu berbuat apa-apa lagi dalam menghadapi ulah siswa, maka kemungkinan siswa ingin menunjukkan ketidakmampuan.
      Dari empat cara/tindakan yang dilakukan individu tersebut mengakibatkan terbentuknya empat pola tingkah laku yang sering nampak pada anak usia sekolah (Maman rahman :1998) yaitu :
1)      Pola aktif konstruktif yaitu pola tingkah laku yang ekstrim, ambisius untuk menjadi super star di kelasnya dan mempunyai daya usaha untuk membantu guru dengan penuh vitalitas dan sepenuh hati.
2)      Pola aktif destruktif yaitu pola tingkah laku yang diwujudkan dalam bentuk membuat banyolan, suka marah, kasar dan memberontak.
3)      Pola pasif konstruktif yaitu pola yang menunjuk kepada satu bentuk tingkah laku yang lamban dengan maksud supaya selalu dibantu dan mengharapkan perhatian.
4)      Pola pasif destruktif yaitu pola tingkah laku yang menunjuk kemalasan (sifat pemalas)dan keras kepala.

      Sedangkan masalah kelompok, menurut Lois V. Jhonson dan Mary A. Bany mengemukakan tujuh kategori masalah kelompok dalam pengelolaan kelas, yaitu :
1)    Kelas kurang kohesif, karena alasan jenis kelamin, suku, tingkah laku sosio-ekonomi dan sebagainya.
2)     Kelas mereaksi negatif terhadap salah seorang anggotanya, misalnya mengejek teman kelasnya yang menyanyi dengan suara sumbang.
3) Penyimpangan dari norma-norma tingkah laku yang telah disepakati sebelumnya, misalnya sengaja berbicara keras-keras di runga baca perpustakaan.
4)  Membesarkan hati anggota kelas yang justru melanggar norma kelompok, misalnya pemberian semangat kepada badut kelas.
5)      Kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah digarap.
6) .Semangat kerja rendah , misalnya semacam aksi protes kepada guru karena menganggap tugas yang diberikan kurang adil.
7)  Kelas kurang menyesuaikan diri dengan keadaan baru, seperti perubahan jadwal, atau guru kelas terpaksa diganti sementara oleh guru yang lain.

            Dari dua macam masalah tersebut (masalah individu dan masalah kelompok), setiap macam masalah memerlukan penanganan yang berbeda. Selanjutnya, sasaran penanganan masalah individual adalah individu yang bersangkutan. Sebaliknya di dalam masalah kelompok maka tindakan korektif harus ditujukan kepada kelompok. Diagnosis yang keliru akan mengakibatkan terjadinya tindakan korektif yang keliru pula.

                        C.  Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Manajemen Kelas
            Berhasilnya manajemen kelas dalam memberikan dukungan terhadap pencapaian tujuan pembelajaran yang akan dicapai, banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut melakat pada kondisi fisik kelas dan pendukungnya, juga dipengaruhi oleh faktor non fisik (sosio-emosional) yang melekat pada guru. Untuk mewujudkan pengelolaan kelas yang baik, ada beberapa faktor yang mempengaruhinya antara lain:
1.      Kondisi fisik
            Lingkungan fisik tempat belajar mempunyai pengaruh penting terhadap hasil pembelajaran. Lingkungan fisik yang menguntungkan dan memenuhi syarat minimal mendukung meningkatnya intensitas proses pembelajaran dan mempunyai pengaruh positif terhadap pencapaian tujuan pengajaran. Lingkungan fisik yang dimaksud meliputi:
a.       Ruangan tempat berlangsungnya proses belajar mengajar
      Ruangan tempat belajar harus memungkinkan semua siswa bergerak leluasa, tidak berdesak-desakan dan saling menganggu antara siswa yang satu dengan lainnya pada saat melakukan aktivitas belajar. Besarnya ruangan kelas tergantung pada jenis kegiatan dan jumlah siswa yang melakukan kegiatan. Jika ruangan itu tersebut mempergunakan hiasan, pakailah hiasan-hiasan yang mempunyai nilai pendidikan.
b.      Pengaturan tempat duduk
      Dalam mengatur tempat duduk yang penting adalah memungkinkan terjadinya tatap muka, dengan demikian guru dapat mengontrol tingkah lakusiswa. Pengaturan tempat duduk akan mempengaruhi kelancaran proses belajar mengajar.
c.       Ventilasi dan pengaturan cahaya
      Suhu, ventilasi dan penerangan (kendati pun guru sulit mengatur karena sudah ada) adalah aset penting untuk terciptamya suasana belajaryang nyaman. Oleh karena itu, ventilasi harus cukup menjamin kesehatan siswa.
d.      Pengaturan penyimpanan barang-barang
      Barang-barang hendaknya disimpan pada tempat khusus yang mudah dicapai kalau segera diperlukan dan akan dipergunakan bagi kepentingan belajar. Barang-barang yang karena nilai praktisnya tinggi dan dapat disimpan di ruang kelas seperti buku pelajaran, pedoman kurikulum, kartu pribadi dan sebagainya, hendaknya ditempatkan sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu gerak kegiatan siswa.Tentu saja masalah pemeliharaan juga sangat penting dan secara periodik harus dicek dan recek.

      Hal lainnya adalah pengamanan barang-barang tersebut. Baik dari pencurian maupun barang-barang yang mudah meledak atau terbakar.Hal lain yang perlu diperhatikan dalam penciptaan lingkungan fisik tempat belajar adalah kebersihan dan kerapihan. Seyogyanya guru dan siswa turut aktif dalam membuat keputusan mengenai tata ruang, dekorasi dan sebagainya.Kondisi Sosio-EmosionalKondisi sosio emosional dalam kelas akan mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap proses belajar mengajar, kegairahan siswa dan efektifitas tercapainya tujuan pengajaran.

2.      Kondisi sosio-emosional tersebut meliputi :
a.       Tipe kepemimpinan
            Peranan guru dan tipe kepemimpinan guru akan mewarnai suasana emosional di dalam kelas. Apakah guru melaksanakan kepemimpinannya secara demokratis, laisez faire atau demokratis. Kesemuanya itu memberikan dampak kepada peserta didik.
b.      Sikap guru
            Sikap guru dalam menghadapi siswa yang melanggar peraturan sekolah hendaknya tetap sabar, dan tetap bersahabat dengan suatu keyakinan bahwa tingkah laku siswa akan dapat diperbaiki. Kalaupun guru terpaksa membenci, bencilah tingkah lakunya bukan membenci siswanya. Terimalah siswa dengan hangat sehingga ia insyaf akan kesalahannya. Berlakulah adil dalam bertindak. Ciptakan satu kondisi yang menyebabkan siswa sadar akan kesalahannya sehingga ada dorongan untuk memperbaiki kesalahannya.
c.       Suara guru
            Suara guru, walaupun bukan faktor yang besar, turut mempengaruhi dalam proses belajar mengajar. Suara yang melengking tinggi atau senantiasa tinggi atau malah terlalu rendah sehingga tidak terdengar oleh siswa akan mengakibatkan suasana gaduh, bisa jadi membosankan sehingga pelajaran cenderung tidak diperhatikan. Suara hendaknya relatif rendah tetapi cukup jelas dengan volume suara yang penuh dan kedengarannya rileks cenderung akan mendorong siswa untuk memperhatikan pelajaran, dan tekanan suara hendaknya bervariasi agar tidak membosankan siswa.
d.      Pembinaan hubungan baik (raport)
            Pembinaan hubungan baik (raport) antara guru dan siswa dalam masalah pengelolaan kelas adalah hal yang sangat penting. Dengan terciptanya hubungan baik guru-siswa, diharapkan siswa senantiasa gembira, penuh gairah dan semangat, bersikap optimistik, relaistik dalam kegiatan belajar yang sedang dilakukannya serta terbuka terhadap hal-hal yang ada pada dirinya.




















Jalannya diskusi
                 1.  Berdo’a pada awal perkuliahan
                 2.  Murajaan hafalan
                 3.  Presentasi materi oleh kelompok penyaji
    a.       Materi pertama (Aspek-aspek manajemen kelas) disampaikan oleh Remuti
    b.      Materi kedua ( Fungsi manajemen kelas) disampaikan oleh Anisa Ramadani
    c.     Materi ketiga (Faktor-faktor yang mempengaruhi manajemen kelas) disampaikan oleh        Yulastri Aroza
                4.  Proses tanya jawab denga forum/audiens
   a.       Gintan Mutiara (aspek aspek manajemen di sd di sd, apakah selurunya harus dipenuhi        dan dalam pemenuhannya apakah harus berurutan?)
   b.      Sisi Anggrayani ( tipe kepemimpinan yang cocok diterapkan di sd)
   c.    Hendra Saputra (sikap guru, jika ada siswa yg bermasalah, ada yang mengaggap enteng     guru  bagaimana cara nya agar siswa tidak mengulangi lagi)
5               5.  Proses penguatan dan penambahan materi oleh dosen pembimbing






13 komentar:

  1. Apakah dalam melaksanakan fungsi manajemen kelas,harus mempertimbangkan kelas rendah atu kelas tinggi atau malahan bisa sama saja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sama karena ada dasarnya tujuan kita melakukan manajemen kelas ini untuk mencapai tujuan yg efektif dan efisien dalam pembelajaran. sehingga tujuan kita,juga tercaoai jadi,dlam melaksanakan fungsi manajemen kelas itu sama baik di kelas rendah maupun tinggi

      Hapus
  2. Pagaimna cara membuat anak itu biar tidak takut dan menangis ktika diminta tmpil kdepan lgi,pgi siswa klas rendah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cara meningkatkan rasa percaya diri anak pada kelas rendah itu tidak mudah, tetapi kita sebagai seorang guru tidak boleh membiarkan hal itu terjadi. Cara meningkatkan rasa percaya diri anak bisa dengan :
      1. Memberikan motivasi dan dorongan kepada siswa
      2. Biarkan siswa bereksplorasi dan berikan apresiasi kepada anak
      3. Jangan membanding-membandingkan prestasi siswa dengan siswa yang lain

      Hapus
  3. Sangat bermanfaat kakak, semoga bisa kita terapkan dilapangan nantinya🙏

    BalasHapus
  4. Mantap penulisannya dan materinya 👍😊

    BalasHapus

Tugas 14

Tugas 14: Membina hubungan sekolah dengan masyarakat dalam disiplin kelas A.     Konsep Dasar Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat ...